Humas, Polnam – Sejumlah Mahasiswa Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Ambon (Polnam) melaksanakan kunjungan industri ke PT Harta Samudra yang beralamat di Tantui, Ambon, pada Jumat, (6/11/2026). Kegiatan ini dilakukan untuk menjembatani pemahaman teori di perkuliahan dengan praktik nyata penanganan dan ekspor hasil perikanan menuju pasar internasional. Rombongan diterima langsung oleh Plant Manager PT Harta Samudra, Sarah Hutapea, didampingi Staf Khusus Bagian Ekspor, Jansen, serta didampingi oleh para dosen dari jurusan Administrasi Niaga Polnam.
Dalam kunjungan tersebut, para mahasiswa diajak menelusuri alur ekspor secara menyeluruh — bermula dari penerimaan ikan langsung dari para nelayan mitra, proses pemilahan dan penentuan kualitas atau sortasi serta grading, penyimpanan di ruang pendingin (cold storage), pengemasan yang disesuaikan dengan standar negara tujuan, hingga tahap pemuatan ke dalam kontainer berpendingin.
Bagian yang paling menarik perhatian peserta adalah penjelasan mendalam mengenai dokumen-dokumen wajib ekspor. Pihak perusahaan menguraikan secara terperinci berkas-berkas yang harus dipenuhi agar kiriman dapat lolos pemeriksaan Bea Cukai dan diterima oleh pembeli dari luar negeri. Dokumen tersebut meliputi Faktur (Invoice), Daftar Kemasan (Packing List), Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB), Surat Muatan (Bill of Lading), Sertifikat Asal (Certificate of Origin), Sertifikat Kesehatan (Health Certificate), serta Sertifikat Analisis (Certificate of Analysis).

“Selama ini kami hanya menghafal nama-nama dokumen ekspor di kelas. Di sini kami melihat langsung bentuk aslinya dan bagaimana cara pengurusannya di Bea Cukai dan Karantina Ikan Ambon,” ungkap salah seorang mahasiswa Program Studi D4 Administrasi Bisnis Terapan.
Manajemen PT Harta Samudra juga memaparkan berbagai tantangan nyata dalam menjalankan usaha ekspor dari wilayah kepulauan seperti Maluku. Di antaranya adalah ketersediaan bahan baku yang sangat bergantung pada musim, tingginya biaya logistik berantai dingin atau cold chain, serta ketatnya persyaratan mutu yang diberlakukan oleh negara tujuan ekspor, antara lain Jepang, Amerika Serikat, dan Singapura.
Dosen pendamping menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang agar lulusan Administrasi Niaga tidak hanya menguasai tata kelola administrasi, melainkan juga memahami seluk-beluk perdagangan global. “Mahasiswa Administrasi Niaga harus paham ekspor. Maluku ini kaya ikan, pala, dan cengkeh. Kalau mahasiswa kita paham dokumen dan prosedur ekspor, mereka bisa jadi eksportir muda, tidak hanya jadi pekerja,” tegasnya.

Sementara itu, Sarah Hutapea menyambut baik kunjungan tersebut dan menyatakan dukungan penuh perusahaan terhadap kegiatan pembelajaran semacam ini, karena pemahaman mengenai dunia ekspor dapat tumbuh lebih kuat melalui pengenalan langsung di lapangan.
Kegiatan diakhiri dengan sesi tanya jawab, penyerahan cendera mata, dan foto bersama. Kedua belah pihak berkomitmen untuk memperluas kerja sama ke depannya, mencakup program magang, Praktik Kerja Lapangan (PKL), hingga kesempatan penelitian tugas akhir bagi mahasiswa di bidang perdagangan ekspor hasil laut.
(Humas)

