Polnam Selenggarakan Seminar Internasional

Humas, Polnam – Politeknik Negeri Ambon (Polnam) menyongsong Dies Natalis ke-39 menyelenggarakan Seminar Internasional, Selasa (29/9/2026) di kampus Polnam. Seminar Internasional ini dengan tema “Building Global Competencies in Vocational Graduates: Work- Based Learning for Future Industry Demands”.

Sebagai Narasumber, menurut ketua panitia Dies Natalis, Ahmad Nusi, adalah Nicholas Kloor dari Kenyon College & Waseda University, Mansye Sekewael dari University of Rochester, dan Vasco Sipahelut Alumni Polnam dari Gubkin Russian State University of Oil and Gas, yang bergabung melalui Zoom Meeting.

“Tema ini mencerminkan komitmen kami untuk mempersiapkan lulusan vokasi yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga adaptif, kolaboratif, inovatif, dan siap menjawab tuntutan industri global”, ujar Ahmad.

Menurutnya, mahasiswa harus memiliki keterampilan teknis yang relevan dengan bidang studi mereka di institusi vokasi, serta memiliki karakter yang tepat untuk menghadapi tuntutan masa depan.

“Seminar ini dilakukan secara hybrid yaitu onsite dan online via zoom dengan total 329 peserta dari internal Politekknik Negeri Ambon, 4 peserta dari luar Polnam, serta 15 peserta dari 7 negara yaitu Vietnam, Malaysia, Timor Leste, Nepal, Pakistan, Amerika Serikat, dan Rusia”, tuturnya.

Selain seminar internasional, panitia di hari ini juga akan melaksanakan Coaching Clinic kepada 16 tim untuk proposal Program Kreativitas Mahasiswa dengan semangat bertajuk From Ideas to Impact. Sehingga ia berharap kegiatan ini dapat menginspirasi mahasiswa untuk mengubah gagasan mereka menjadi proposal yang kuat, inovatif, dan bermakna.

Direktur Politeknik Negeri Ambon, Marceau A. F. Haurissa, dalam sambutannya menyampaikan pemilihan tema ini sangat relevan. Karena Pendidikan vokasi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan keterampilan teknis.

“Kita harus membentuk lulusan yang adaptif, kompetitif, kolaboratif, mampu memecahkan masalah, berkomunikasi lintas budaya, serta memahami standar dan budaya kerja industri secara global”, ujar Direktur.

Baginya, work-based learning harus menjadi jembatan yang semakin kuat antara pembelajaran di kampus dan kebutuhan nyata dunia kerja. Kurikulum, praktik, magang, sertifikasi kompetensi, dan kemitraan industri, kata dia, harus bermuara pada lulusan yang siap bekerja, siap beradaptasi, dan siap bersaing secara global.

Terkait dengan kegiatan Coaching Clinic, menurut Direktur, gagasan mahasiswa tidak boleh berhenti sebagai ide, tetapi harus dikembangkan menjadi proposal yang sistematis, inovasi yang aplikatif, dan solusi yang memberi manfaat nyata.

“Saya berharap forum ini menghasilkan pengetahuan baru, jejaring baru, kolaborasi baru, dan karya mahasiswa yang semakin berkualitas, sekaligus memperkuat Polnam sebagai institusi pendidikan vokasi yang berdampak dan berdaya saing global”, harapnya.

(Humas)

Share the Post:

Related Posts