Ekonomi kreatif merupakan proses ekonomi yang termasuk kegiatan produksi dan distribusi barang serta jasa di dalamnya yang membutuhkan gagasan dan ide kreatif serta kemampuan intelektual dalam membangunnya.  Pernyataan ini disampaikan Dosen Administrasi Niaga Politeknik Negeri Ambon, Alvian Sapulette dalam diskusi yang bertajuk Peran Perguruan Tinggi dan Sektor Jasa Keuangan dalam Mendorong Ekonomi Kreatif Indonesia, yang diselenggarakan oleh DPW Gekrafs Maluku di Audiotorium Politeknik Negeri Ambon, Rabu (16/8/2023).

Sapulette menuturkan, jumlah wirausaha di Indonesia masih sangat sedikit, yaitu sebesar 3,47 persen. Setidaknya Indonesia memerlukan 4 juta wirausaha baru untuk menjadi negara maju. Oleh karena itu anak-anak muda, khususnya mahasiswa, harus berani berkarya dan berwirausaha sehingga angka 3,47 persen ini bisa kita tingkatkan menyamai negara-negara tetangga kita yang sudah di atas 7 persen.

“Saat ini pemerintah sedang mengkampanyekan Wirausaha Merdeka yang menjadi bagian dari program Kampus Merdeka Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI. Program ini¬† memberikan kesempatan kepada mahasiswa belajar dan mengembangkan diri menjadi calon wirausahawan melalui aktivitas di luar kelas perkuliahan”, kata Sapulette.

Program tersebut, lanjut Sapulette, memberikan bantuan bagi mahasiswa yang layak dalam bentuk dana yang dapat digunakan secara perorangan dan kelompok. Di samping itu, mahasiswa memahami wirausaha, ciri-ciri wirausaha serta mampu membuat perencanaan pemasaran dan perencanaan usaha.

“Pengembangan dan dukungan pemerintah terhadap ekonomi kreatif ini dilatarbelakangi fakta yang menyatakan bahwa pelaku ekonomi kreatif memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kenaikan produk domestic bruto negara, jumlah tenaga kerja, tingkat partisipasi tenaga kerja, produktivitas tenaga kerja, pertumbuhan ekspor dan jumlah perusahaan berbasis industri kreatif,” imbuhnya.

(Humas)